Welcome to my blog, hope you enjoy reading :)
RSS

Selasa, 12 Maret 2013

Puteri Cahaya: Sebuah Keputusan

Puteri Cahaya berpikir sejenak. Jika ayahnya tidak diselamatkan, kerajaannya pasti akan semakin dikuasai oleh Raja Domudomu. Akan tetapi, sangatlah tidak mungkin kalau dua orang saudaranya yang menyelamatkan sang ayah. Puteri Berlian hanya tahu bagaimana cara berdandan, sedangkan Puteri Pena hanya mahir bersyair.
"Baiklah, aku yang akan menyelamatkan Ayah."
Kedua puteri terlihat kaget.
"Bagaimana caranya?" tanya Puteri Berlian.
"Hanya aku yang tau cara berkuda. Aku akan pergi besok saat fajar mulai tampak." jawab Puteri Cahaya.

Tiba - tiba datanglah penasehat kerjaan.
"Puteri Cahaya, anda harus sangat berhati - hati jika akan menyelamatkan Baginda Raja. Di hutan Gelap, ada satu makhluk buas bernama Arona. Makhluk berwujud harimau berekor api. Dia menyukai bau darah manusia. Di danau Hijau ada Mirina, sosok duyung dengan kepala seperti kuda. Dia bisa menyamar menjadi wanita cantik dan menenggelamkan siapa saja yang nekat melintasi danau. Dan  di jembatan Mistis, ada raksasa Biggo yang kabarnya berbadan jauh lebih tinggi dari pohon, berbau busuk, dan sering melenyapkan siapa saja yang mencoba menyeberangi jembatan."
Puteri Cahaya berpikir keras.


Bisa saja dia membiarkan sang ayah ditahan, dan dia beserta saudaranya bisa memimpin kerjaan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sang ayah. Bagaimanapun, dia harus berangkat.
"Apapun resikonya, saya akan berangkat." ucap Puteri cahaya mantap.
"Baiklah kalau memang Puteri Cahaya bertekad keras untuk menyelamatkan Raja Bintang. Saya akan memberikan tiga bekal untuk Puteri." ujar penasehat.
Penasehat memberikan sekantong roti dan sebuah belati  bermata intan.
"Ini ada sekantong roti. Roti ini terbuat dari gandum terbaik di negeri ini. Kalau Puteri makan sebuah saja, niscaya akan merasa kenyang selama sehari. Dan belati ini bermata intan. Ini adalah harta terbesar kerajaan, yang sampai sekarang belum terungkap keajaibannya. Raja selalu menyuruh saya menjaga benda ini. Belati ini adalah warisan turun temurun di kerajaan. Semoga Puteri bisa selalu dijaga oleh belati ini."
"Lalu apa bekal ketiga yang akan saya bawa, Paman?" tanya Puteri Cahaya.
"Di luar ada kuda kesayangan Puteri. Bawa dia. Dia akan menemani Puteri dalam perjalanan." jawab penasehat.
Puteri Cahaya menengok ke luar jendela. Seekor kuda poni putih sedang merumput. Namanya Corona. Tubuhnya bersih dan kekar.

Matahari mulai tertidur. Namun Puteri Cahaya justru tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya tertuju pada perjalanan yang akan dia jalani mulai esok pagi. Akankah dia sanggup menyelamatkan sang ayah? Akankah dia mampu menghadapi rintangan untuk sampai di Kerajaan Domudomu?

[cont]

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.